Penyebab Merek Ditolak & Cara Mengatasinya

Penyebab Merek Ditolak & Cara Mengatasinya

Sebagai pengusaha, kamu diharuskan untuk berpikir kreatif. Salah satu yang sering membuat bingung mungkin adalah persoalan nama merek dagang. Semakin banyaknya UMKM ataupun bisnis yang tumbuh menjadi ladang kompetisi membuat pengusaha harus memutar otak dalam mencari merek dagangnya. Tuntutan untuk mudah diingat namun tidak pasaran dan memiliki ciri khas dibanding yang lain menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan beragam faktor yang ada, acap kali merek yang kita daftarkan tersebut ditolak. Di sini, kamu akan mengetahui apa saja penyebab merek ditolak dan cara mengatasinya supaya usaha kamu berjalan lancar.

Baca Juga; Mengenal Merek: Cara Membangunnya Dalam Bisnis

Penyebab Merek Ditolak

Penolakan permohonan merek bukan hanya karena prosesnya yang rumit, terkadang kamu acap kali melupakan hal-hal dasar yang tidak kamu sadari. Penolakan pendaftaran merek di Indonesia diatur dalam UU No. 20 Tahun 2016, khususnya Pasal 20 → alasan penolakan absolut dan Pasal 21 → alasan penolakan relatif & itikad tidak baik. 

Berikut beberapa kemungkinan penyebab merek ditolak:

Merek Terlalu Umum

merek yang hanya menjelaskan jenis, fungsi, kualitas, atau karakteristik barang dan/atau jasa yang ditawarkan, tanpa memiliki unsur pembeda. Karena tidak menunjukkan identitas khusus suatu produk, merek seperti ini sulit dibedakan dari produk sejenis dan berpotensi ditolak pendaftarannya oleh DJKI. 

Contoh:

  • Misalnya, penggunaan nama seperti “Minuman Soda” untuk produk air kemasan, “Susu Kambing” untuk produk susu, atau Laundry Express untuk jasa laundry. 

Merek Memiliki Kesamaan Dengan Merek Terdaftar

Merek yang menyerupai merek terdaftar berisiko ditolak karena dapat menimbulkan kebingungan konsumen dan melanggar hak merek pihak lain. Persamaan ini dapat menimbulkan kebingungan di masyarakat serta berpotensi merugikan pemilik merek yang sah. 

Contoh:

  • Pemohon mendaftarkan merek “Milk Kita”, yang dianggap memiliki kesamaan pelafalan dengan merk “Milkita” yang sudah terdaftar lebih dulu.

Merek Mengandung Unsur Terlarang

Merek yang mengandung unsur terlarang berpotensi ditolak karena bertentangan dengan hukum, norma, atau ketertiban umum. Penggunaan unsur-unsur tersebut dinilai tidak pantas dan berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat, sehingga permohonan pendaftaran merek dapat ditolak oleh DJKI. 

Contoh:

  • Merek mencantumkan klaim berlebihan atau tidak benar, misalnya kata “paling aman”, “100% asli”, atau “resmi negara”, padahal tidak dapat dibuktikan.

Merek Tidak Sesuai Kelas Barang / Jasa

Merek dapat ditolak apabila pendaftarannya tidak sesuai dengan kelas barang dan/atau jasa yang diajukan. Ketidaksesuaian ini terjadi ketika deskripsi barang atau jasa tidak mencerminkan kegiatan usaha sebenarnya atau tidak sejalan dengan klasifikasi merek yang berlaku. Akibatnya, merek dinilai tidak tepat sasaran dan berpotensi menimbulkan kebingungan dalam perlindungan hukumnya. 

Contoh:

  • Pemohon mendaftar merek “Arm Cobra” di kelas perabotan rumah, padahal usaha yang dijalankan adalah senjata api.

Merek Didaftarkan Dengan Itikad Tidak Baik

Permohonan merek yang diajukan dengan maksud meniru atau mengeksploitasi reputasi merek lain dinilai sebagai pendaftaran dengan itikad tidak baik karena tidak mencerminkan persaingan usaha yang jujur dan adil. 

Contoh:

  • Seseorang mendaftarkan merek “Mike” untuk produk pakaian dengan logo dan tampilan yang menyerupai merek terkenal “Nike”

Merek Sudah Terdaftar Lebih Dulu Oleh Pihak Lain

Penolakan dapat terjadi karena sistem merek menganut prinsip first to file, yang memberikan hak eksklusif kepada pendaftar pertama. Untuk menghindari hal tersebut, penting memastikan merek belum terdaftar sebelumnya.

Contoh:

  • Seorang pelaku usaha mendaftarkan merek “Sari Roti” untuk produk makanan, namun permohonan ditolak karena merek tersebut sudah lebih dulu terdaftar oleh pihak lain pada kelas barang yang sama.

Cara Mengatasi Penolakan Merek

Ada beberapa cara untuk mengatasi permasalahan penolakan permohonan merek dagang, yakni dengan memilih nama yang unik, melakukan pengecekan awal, dan menentukan kelas yang tepat sehingga risiko penolakan dapat diminimalkan, selain itu pendaftaran sejak awal adalah kuncinya, serta salah satu yang terpenting untuk membantu kamu adalah pendampingan profesional untuk menjadi kunci perlindungan merek yang aman. Lewat EasyLegal, kamu bisa konsultasi panjang lebar mengenai permohonan merek dagang, selain itu kamu juga bisa mengurus hal-hal yang berkaitan dengan legalitas izin usaha. Penasaran? langsung klik TAUTAN INI!

Istilah Legalitas Izin Usaha, Kenalan Yuk!

Istilah Legalitas Izin Usaha, Kenalan Yuk!

Pendahuluan

Apa kamu pernah ingin mendapatkan legalitas izin usaha, tapi kebingungan sama beragam istilah di dalamnya? Nah, persoalan dalam memahami istilah-istilah itu sering kali menjadi batu sandungan buat para pengusaha yang kebingungan dengan maksud dan arti dari istilah yang sering muncul tersebut. Kalau gitu, supaya gak kebingungan lagi, baiknya kita mengenal berbagai istilah legalitas izin usaha dulu yuk! sebelum akhirnya kamu memantapkan diri untuk mengurus perizinan usaha.

Istilah Utama Perizinan

  • OSS (Online Single Submission)

OSS adalah sistem resmi pemerintah berbasis online yang digunakan untuk mengurus seluruh legalitas usaha di Indonesia dalam satu platform. Tujuan OSS adalah menyederhanakan dan mempercepat proses perizinan usaha.

OSS RBA adalah pendekatan baru dalam perizinan usaha yang menilai usaha berdasarkan tingkat risiko kegiatannya, bukan besar kecilnya usaha.Pendekatan ini membuat perizinan lebih adil, proporsional, dan sesuai dampak usaha.

  • NIB (Nomor Induk Berusaha)

NIB adalah identitas resmi pelaku usaha yang dikeluarkan melalui OSS. Untuk beberapa UMKM, NIB sudah cukup menjadi dokumen legalitas usaha untuk beroperasi secara legal.

  • Perizinan Berusaha

Perizinan berusaha adalah istilah payung yang mencakup seluruh bentuk izin usaha, Istilah ini menegaskan bahwa legalitas usaha tidak hanya satu dokumen, melainkan serangkaian kewajiban yang disesuaikan dengan risiko dan jenis kegiatan usaha.

Istilah Risiko dan Klasifikasi Usaha

  • Risiko Usaha

Risiko usaha menggambarkan seberapa besar dampak dan bahaya yang bisa ditimbulkan oleh suatu usaha, baik bagi manusia, lingkungan, maupun masyarakat, yang kemudian menentukan izin apa saja yang wajib dimiliki pelaku usaha.

  • Tingkat Risiko Usaha

Tingkat risiko usaha adalah pengkategorian usaha berdasarkan besar kecilnya risiko, yaitu risiko rendah, menengah rendah, menengah tinggi, dan tinggi. Pengkategorian ini menentukan apakah usaha cukup dengan NIB atau memerlukan izin tambahan.

Baca Juga: Ini Cara Mengetahui Risiko Usaha Rendah atau Tinggi

  • KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia)

merupakan standar klasifikasi kegiatan ekonomi di Indonesia yang digunakan untuk mengidentifikasi jenis usaha yang dijalankan oleh pelaku usaha.

  • Kegiatan Usaha Utama dan Pendukung

Kegiatan usaha utama adalah aktivitas penghasil pendapatan, sementara kegiatan pendukung bersifat pelengkap. Pembagian ini digunakan untuk menentukan KBLI dan izin usaha yang sesuai.

Istilah Izin dan Standar

  • Sertifikat Standar

Sertifikat Standar merupakan dokumen resmi dari pemerintah yang diterbitkan lewat sistem OSS-RBA untuk mendukung legalitas usaha.

  • Izin Operasional / Izin Komersial

Persetujuan yang diterbitkan melalui OSS atas nama Menteri atau Gubernur, yang memungkinkan pelaku usaha menjalankan kegiatan usaha secara komersial atau operasional setelah memenuhi syarat atau komitmen tertentu.

  • Pernyataan Mandiri (Self Declare)

Skema pernyataan dari pengusaha atas legalitas izin usahanya yang sudah memenuhi standar atau aturan yang mengikat.

Istilah Tata Ruang dan Lingkungan

  • KKPR (Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang)

Perizinan ini menjadi persyaratan dasar bagi pelaku usaha untuk menjamin bahwa pemanfaatan lahan telah sesuai dengan rencana tata ruang yang ditetapkan.

  • AMDAL

AMDAL atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian untuk menilai dampak besar suatu rencana usaha atau kegiatan terhadap lingkungan sebelum usaha tersebut dijalankan.

  • UKL-UPL

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan merupakan instrumen pengelolaan lingkungan yang digunakan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan serta dasar penerbitan izin usaha dan/atau kegiatan.

Baca Juga: Mengenal RDTR, Gerbang Izin Lokasi Usaha

Istilah Pajak

  • NPWP Badan / Pribadi Usaha

NPWP merupakan nomor identitas yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) bagi wajib pajak dan berfungsi sebagai tanda pengenal resmi dalam pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan, baik bagi individu maupun badan usaha.

  • PKP (Pengusaha Kena Pajak)

PKP adalah status perpajakan bagi pelaku usaha yang diwajibkan memungut, menyetor, dan melaporkan PPN setelah memenuhi persyaratan omzet yang ditetapkan.

Kesimpulan

Dari beberapa pengertian istilah yang muncul di atas, semoga bisa membantu kamu untuk semakin paham mengenai beragam istilah legalitas izin usaha yang ada. Mengetahui dan memahaminya dapat memberikan kamu kemudahan mengurusn perizinan usaha yang akan kamu dirikan. Apabila kamu masih kebingungan, EasyLegal bisa jadi tempat kamu konsultasi soal legalitas izin usaha yang ingin kamu buat, cukup dengan klik TAUTAN INI.

Mengenal RDTR, Gerbang Izin Lokasi Usaha

Mengenal RDTR, Gerbang Izin Lokasi Usaha

Dalam proses pendirian usaha, terdapat beberapa syarat-syarat yang mesti dipenuhi oleh para calon pengusaha. Persoalan legalitas adalah salah satu persyaratan yang sering menjadi kendala bagi pengusaha yang baru menapaki dunia usaha. Tanpa adanya legalitas, usaha yang didirikan tidak memiliki status perlindungan hukum yang pasti. Untuk mengurus perihal legalitas tersebut, ada syarat berupa lokasi izin usaha yang harus terdata oleh RDTR atau Rencana Detail Tata Ruang.

Apa Itu RDTR?

Dalam proyek pembangunan wilayah kota/kabupaten diperlukan adanya perencanaan matang yang mengatur tata ruang, selaras dengan prinsip untuk menciptakan wilayah yang nyaman, tertata rapi, dan berkelanjutan. Tujuan tersebut kemudian diakomodir lewat adanya RDTR atau Rencana Detail Tata Ruang.

RDTR sendiri adalah perencanaan terperinci untuk tata ruang di suatu wilayah, RDTR merinci rencana tata ruang sampai tingkat paling operasional, sehingga menjadi pedoman utama bagi:

  • Pemerintah dalam pengendalian ruang
  • Investor dan pelaku usaha dalam menentukan lokasi usaha
  • Masyarakat dalam membangun atau memanfaatkan lahan

Mengapa RDTR Penting Untuk Izin Usaha?

RDTR sangat penting, bukan hanya untuk masyarakat biasa yang ingin mendirikan perumahan, tapi juga bagi yang ingin membuka usaha secara legal. Sebuah usaha jika ingin mendapatkan legalitas perlu memiliki izin lokasi terlebih dahulu. Izin lokasi tersebut perlu didapatkan melalui RDTR. 

Melalui RDTR, pelaku usaha dapat mengetahui apakah suatu jenis usaha diperbolehkan atau tidak pada lokasi tertentu, sehingga proses perizinan seperti OSS dan KKPR dapat berjalan lancar. Kesesuaian dengan RDTR juga membantu mengurangi risiko hukum, seperti sanksi administratif, pencabutan izin, hingga pembongkaran bangunan. Bisa dikatakan juga kalau RDTR itu gerbang izin lokasi usaha. Baca juga; Ini Cara Mengetahui Risiko Usaha Rendah atau Tinggi

Cara Cek RDTR Untuk Izin Usaha

Buat kamu yang belum paham cara cek RDTR, berikut adalah langkah-langkahnya:

  • Menentukan lokasi secara akurat

Pastikan alamat dan titik koordinasi (via Gmaps) sudah sesuai.

  • Melihat zonasi RDTR (online atau manual)

Untuk melihatnya, kamu bisa masuk ke tautan https://oss.go.id/id/rdtr-interaktif 

  • Memahami aturan zona dan intensitas bangunan

Aturan zona ini memberikan ketentuan apakah lokasi usaha yang kamu miliki termasuk zona usaha atau tidak, jika tidak, maka izin tidak akan bisa turun.

  • Menyesuaikan dengan rencana usaha

Dari hasil pengamatan, kamu mulai bisa menentukan kesesuaian usaha kamu dengan aturan zona RDTR tersebut.

  • Memastikan kesesuaian lewat OSS & KKPR

Masuk ke OSS, lalu input data lokasi usaha, maka sistem akan otomatis; Mengecek RDTR dan menentukan status KKPR.

Buat Kamu yang Tidak Mau Ribet!

Dengan beragam langkah yang perlu dilakukan, mungkin kamu agaknya sedikit bingung dan tidak mau ribet. Tapi tenang, EasyLegal bisa jadi tempat kamu konsultasi, ataupun mengurus seluruh perihal legalitas perizinan sampai beres. Tanpa perlu ribet, cukup hubungi EasyLegal maka semua urusan legalitas kamu pasti selesai, ayo! tunggu apa lagi?

Ini Cara Mengetahui Risiko Usaha Rendah atau Tinggi

Ini Cara Mengetahui Risiko Usaha Rendah atau Tinggi

Dunia bisnis atau usaha memiliki banyak perhitungan yang dapat menjadi faktor maju atau mundurnya sebuah usaha tersebut. Dari banyaknya faktor yang mesti diperhitungkan oleh pengusaha, terdapat satu faktor yang sering luput dari pemahaman pengusaha karena berbagai alasan. Melalui artikel ini, kamu akan tau cara mengetahui tentang risiko usaha rendah atau tinggi.

Apa Itu Risiko Usaha?

Risiko usaha menggambarkan seberapa besar dampak dan bahaya yang bisa ditimbulkan oleh suatu usaha, baik bagi manusia, lingkungan, maupun masyarakat, yang kemudian menentukan izin apa saja yang wajib dimiliki pelaku usaha. 

Dalam sistem OSS berbasis risiko, pemerintah menilai usaha bukan dari besar kecilnya omzet, melainkan dari jenis kegiatan dan dampaknya. Dengan memahami tingkat risiko usaha sejak awal, pelaku usaha dapat mengurus izin yang tepat, menghindari masalah hukum, dan menjalankan usahanya dengan lebih aman dan tenang.

Mengapa Risiko Usaha Diterapkan di OSS?

Istilah risiko usaha digunakan dalam OSS sebagai upaya pemerintah untuk menerapkan pengaturan usaha yang proporsional, di mana setiap kegiatan usaha dikenai kewajiban perizinan berdasarkan tingkat dampak dan risikonya. Pendekatan ini bertujuan menciptakan sistem perizinan yang lebih efisien, pasti, dan tetap menjamin perlindungan kepentingan umum.

Kategori tingkatan Risiko Usaha

Dalam sistem perizinan berbasis risiko, setiap usaha dikelompokkan ke dalam empat tingkat risiko, mulai dari yang rendah hingga yang tinggi.

  • Risiko Rendah

Usaha dengan potensi bahaya yang sangat kecil terhadap keselamatan, kesehatan, lingkungan, dan kepentingan umum.
Perizinan: NIB (Nomor Induk Berusaha)
Contoh:
Warung kecil, toko online non-produk berbahaya, jasa desain atau pengetikan.

  • Risiko Menengah Rendah

Usaha dengan potensi dampak terkendali dan relatif kecil jika terjadi gangguan.
Perizinan: NIB, sertifikat standar (pernyataan mandiri)
Contoh:
Laundry, rumah makan kecil, bengkel skala kecil.

  • Risiko Menengah Tinggi

Usaha dengan potensi bahaya yang lebih besar sehingga memerlukan pengawasan.
Perizinan; NIB, sertifikat standar (verifikasi pemerintah)
Contoh:
Industri makanan tertentu, klinik pratama, usaha pengolahan bahan tertentu.

  • Risiko Tinggi

Usaha dengan potensi bahaya besar dan berdampak luas bagi masyarakat atau lingkungan.
Perizinan; NIB, izin khusus / izin operasional, persetujuan teknis tambahan
Contoh:
Pertambangan, rumah sakit, industri bahan berbahaya.

Faktor Penyebab Risiko Usaha

Berbagai tingkat risiko usaha tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah kondisi yang melekat pada cara suatu usaha dijalankan. Mulai dari jenis kegiatan, lokasi, hingga tingkat kepatuhan terhadap aturan, setiap faktor dapat meningkatkan atau menurunkan risiko yang ditimbulkan. Berikut adalah faktor-faktor utama yang dapat memicu risiko usaha:

  • Jenis kegiatan usaha 

Semakin berbahaya atau kompleks aktivitas usaha, semakin tinggi risiko yang ditimbulkan.

  • Lokasi usaha 

Usaha di area padat penduduk atau tidak sesuai tata ruang berisiko lebih besar. Selengkapnya

  • Skala kegiatan 

Volume produksi dan intensitas aktivitas yang tinggi meningkatkan potensi dampak.

  • Teknologi dan peralatan

Penggunaan mesin dan teknologi berisiko memicu kecelakaan dan gangguan operasional.

  • Dampak lingkungan

Limbah, emisi, dan kebisingan meningkatkan risiko terhadap lingkungan dan masyarakat.

  • Keselamatan kerja (K3)

Standar K3 yang lemah memperbesar risiko kecelakaan dan kerugian usaha.

  • Sumber daya manusia

Kurangnya kompetensi dan pengawasan tenaga kerja meningkatkan risiko operasional.

  • Kepatuhan regulasi

Ketidakpatuhan terhadap aturan memicu sanksi dan masalah hukum.

Kesimpulan

Pemahaman mengenai risiko usaha kini adalah suatu kewajiban bagi para pengusaha, karena menjadi salah satu landasan legalitas bisnis. Setelah membaca artikel ini, kamu bisa melihat bagaimana cara mengetahui risiko usaha rendah atau tinggi serta paham tingkat risiko mana yang dimiliki oleh usaha kamu, supaya memudahkan urusan legalitas antara pengusaha dengan negara. Bagi yang masih bingung dan mau konsultasi, EasyLegal selalu ada menunggu pertanyaan kamu, jadi langsung saja klik TAUTAN INI.

LEBIH BAIK PT ATAU CV? PILIH SESUAI KEBUTUHAN KAMU

LEBIH BAIK PT ATAU CV? PILIH SESUAI KEBUTUHAN KAMU

 

Pendahuluan

Dalam proses pembuatan bisnis, terdapat beberapa tahapan yang perlu dilakukan. Salah satunya, pemilihan badan usaha untuk membentuk struktur manajemen yang jelas dan legal di mata hukum. Memilih badan usaha tentu harus menyesuaikan kebutuhan dan kesiapan yang kita punya, dan dapat didasari berdasarkan kelebihan dan kekurangan dari jenis-jenis badan usaha yang ada. PT dan CV adalah dua bentuk badan usaha yang paling terkenal serta sering dipilih oleh orang-orang yang ingin menjajaki dunia bisnis secara legal. Jadi, melalui tulisan ini mungkin kamu bisa memikirkan badan usaha mana yang paling tepat untuk kebutuhan kamu, PT atau CV?

 

Apa Itu Badan Usaha?

Badan usaha dapat dipahami sebagai bentuk atau wadah yang digunakan seseorang atau sekelompok orang untuk menjalankan kegiatan usaha secara teratur. M. Manullang menguraikan bahwa badan usaha merupakan kesatuan ekonomi yang bertujuan menghasilkan keuntungan dengan cara memenuhi kebutuhan masyarakat melalui kegiatan produksi atau jasa. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa badan usaha adalah sarana untuk menjalankan kegiatan ekonomi secara terorganisasi, legal, dan berkesinambungan.

Lebih lengkap: Pengertian Badan Usaha

Pilih PT atau CV?

Ada dua jenis badan usaha yang paling dikenal secara luas oleh masyarakat, yakni PT dan CV. Dari keduanya, memiliki karakteristik, persyaratan, kelebihan, dan kekurangannya tersendiri. Memahami hal-hal tersebut dapat mempermudah kamu untuk memilih mana yang paling tepat untuk usaha atau bisnis kamu.

Kalau Kamu Pilih PT

Perseroan Terbatas (PT) merupakan salah satu bentuk badan usaha yang paling banyak digunakan dalam dunia bisnis karena memiliki struktur yang jelas dan pengakuan hukum yang kuat. PT disebut sebagai badan hukum karena keberadaannya diakui oleh negara dan terpisah dari para pemiliknya.

Kelebihan PT adalah lebih dipercaya, mudah mengembangkan usaha, dan harta pribadi pemilik lebih aman. Namun, PT juga memiliki kekurangan karena biaya pendirian dan pengelolaannya relatif lebih besar serta administrasinya lebih rumit dibandingkan bentuk usaha lain.

PT cocok untuk usaha menengah hingga besar atau usaha kecil yang punya rencana tumbuh. Jika usaha membutuhkan modal cukup besar, alat produksi, atau banyak karyawan, PT menjadi pilihan yang aman karena harta pribadi pemilik terlindungi. Jika PT adalah pilihan kamu, artinya rencana bisnis kamu untuk jangka menengah atau panjang, serta modal yang cukup untuk menarik minat investor.

Kalau Kamu Pilih CV

CV (Commanditaire Vennootschap) adalah bentuk badan usaha yang didirikan oleh dua orang atau lebih, di mana terdapat pihak aktif yang mengelola usaha dan bertanggung jawab penuh, serta pihak pasif yang hanya menanamkan modal dan bertanggung jawab sebatas modal yang disetorkan. CV digunakan untuk menjalankan usaha secara bersama dengan pengelolaan yang relatif sederhana.

CV umumnya cocok digunakan untuk usaha kecil hingga menengah yang dikelola bersama dan belum membutuhkan bentuk badan hukum yang kompleks. Bentuk usaha ini sering dipilih untuk kegiatan perdagangan, jasa, dan produksi sederhana, seperti toko grosir, percetakan, bengkel, usaha kuliner, konveksi, kontraktor kecil, atau event organizer. 

CV juga sering dipilih karena biaya pendiriannya lebih murah dan prosesnya lebih mudah dibandingkan PT, juga administrasi serta kewajiban hukumnya tidak terlalu rumit. Namun, CV kurang cocok untuk usaha dengan risiko besar atau rencana ekspansi besar, karena bukan merupakan badan hukum. Selain itu pihak aktif bertanggung jawab hingga ke harta pribadi. Selain itu, CV juga kurang ideal jika ingin menarik investor besar atau bekerja sama dengan perusahaan skala nasional. Bila kamu pilih CV sebagai badan usaha, maka tujuan kamu berarti untuk menapaki langkah awal dalam berbisnis secara hati-hati dengan modal terbatas.

Kesimpulan

Dari yang sudah dijelaskan di atas, singkatnya PT adalah pilihan tepat untuk kamu yang ingin bisnis kamu berkembang pesat dan punya perencanaan jangka panjang dengan dana yang besar, sementara CV cocok bagi kamu yang memulai usaha kecil menengah serta dana yang sangat terbatas. Nah, setelah membaca tulisan ini, semoga kamu dapat memahami mana yang paling tepat dan cocok, PT atau CV.

Konsultasi tanpa ribet? langsung ke EasyLegal

PANDUAN LENGKAP KITAS UNTUK WNA

PANDUAN LENGKAP KITAS UNTUK WNA

Pendahuluan

Beberapa tahun terakhir, Bali menjadi sorotan karena banyaknya warga negara asing yang mendirikan usaha seperti kafe, vila, hingga digital agency di sana. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar — apakah kegiatan bisnis yang dilakukan oleh orang asing di Indonesia itu legal?

Faktanya, banyak dari mereka yang beroperasi tanpa badan hukum resmi dan tanpa izin tinggal kerja yang sah. Padahal, secara hukum, setiap warga negara asing yang ingin berbisnis di Indonesia wajib memiliki KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas) serta mendirikan perusahaan dalam bentuk PT Penanaman Modal Asing (PT PMA).

Pengertian

KITAS Kartu Izin Terbatas ialah dokumen yang wajib dimiliki oleh Warga Negara Asing (WNA) yang ingin bekerja atau tinggal dalam waktu lama di Indonesiai. Izin ini bukan sekadar formalitas administratif, tetapi juga bentuk legalitas yang memastikan kegiatan WNA sesuai dengan hukum yang berlaku.

KITAS Kartu Izin Terbatas juga menjadi salah satu aspek penting dalam dunia bisnis, khsusunya bagi perusahaan yang berbadan usaha PT PMA (Penanaman Modal Asing) yang perlu dipahami sejak awal proses pendirian perusahaan. Dan nantinya akan berimplikasi tehadap proses legalitas daripada struktuasi PT PMA sendiri.

Untuk pengusaha, KITAS berfungsi sebagai izin tinggal dan izin kerja legal, yang memungkinkan mereka menjalankan bisnis, mengelola perusahaan, atau berinvestasi di Indonesia secara sah.

Ada beberapa jenis KITAS, seperti:

  • KITAS kerja (untuk tenaga ahli dan profesional)
  • KITAS investor (untuk pemegang saham PT PMA)
  • KITAS keluarga (untuk pasangan atau anak dari WNI)
  • KITAS belajar (untuk pelajar asing)

Namun, bagi pengusaha, KITAS Investor adalah jenis yang paling relevan karena memberikan hak tinggal sekaligus hak untuk menjalankan bisnis di Indonesia.

baca juga: Pendirian PT PMA

Mengapa KITAS Penting Bagi Keberlanjutan Bisnis

KITAS bukan hanya izin tinggal, tapi juga bukti keabsahan aktivitas bisnis di Indonesia. Dengan KITAS, pengusaha asing bisa bekerja dengan tenang, mengelola perusahaan secara sah, dan menghindari risiko hukum seperti deportasi atau pembekuan usaha.

Selain itu, KITAS juga memudahkan akses terhadap berbagai layanan penting. Seperti pembukaan rekening bank bisnis, perpanjangan izin kerja, hingga urusan perpajakan perusahaan.

Dengan memiliki KITAS dan PT PMA yang sah, pengusaha asing turut membantu menciptakan iklim investasi yang sehat dan transparan di Indonesia.

baca juga: Harga Pembuatan KITAS

Dasar Hukum Kitas di Indonesia

Dasar Hukum KITAS di Indonesia

Pemberian dan pengaturan KITAS diatur melalui beberapa regulasi resmi, antara lain:

  • Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian
  • Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Keimigrasian
  • Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 27 Tahun 2014 tentang Izin Tinggal bagi WNA

Aturan tersebut menegaskan bahwa setiap warga negara asing yang ingin bekerja atau berinvestasi di Indonesia harus memiliki Izin Tinggal terbatas yang Sah, termasuk KITAS.

Akibat Hukum Jika Tidak Memiliki KITAS di Indonesia

Bagi warga negara asing yang tinggal, bekerja, atau menjalankan usaha di Indonesia tanpa memiliki KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas), ada beberapa konsekuensi hukum yang cukup serius. Hal ini diatur jelas dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

  1. Dinyatakan tinggal secara illegal
  2. Sanksi Administratif
  3. Sanksi Pidana
  4. Bisnis dinyatakan tidak sah
  5. Kerugian bisnis dan reputasi.

Kesimpulan

Tidak memiliki KITAS bukan hal sepele. Khususnya bagi pengusaha asing, ini bisa berujung pada deportasi, sanksi pidana, hingga pembekuan bisnis. KITAS bukan hanya izin tinggal, tetapi jaminan hukum agar kegiatan usaha berjalan sah dan aman di Indonesia.

Ingin Urus KITAS sekaligus PT PMA Tanpa Ribet? Konsultasikan langsung dengan EasyLegal!

Panduan Lengkap Perjanjian Pra Nikah di Indonesia

Panduan Lengkap Perjanjian Pra Nikah di Indonesia

Pendahuluan

 

Perjanjian Pra Nikah adalah kesepakatan tertulis antara calon suami dan istri sebelum menikah. Isinya mengatur hal-hal penting seperti pemisahan harta, pembagian pendapatan, tanggung jawab atas utang, dan hak masing-masing pasangan selama pernikahan. Tujuan perjanjian ini adalah untuk memberikan kejelasan dan perlindungan hukum bagi kedua pihak agar tidak terjadi masalah di kemudian hari.

Perjanjian pranikah memberikan manfaat penting khususnya bagi pelaku usaha, yakni terlindunginya aset pribadi dan bisnis dari potensi sengketa jika terjadi perceraian. Dengan pemisahan harta yang jelas, keuangan usaha tetap aman, operasional bisnis tidak terganggu, dan kepemilikan aset tetap terjaga secara hukum.

Pengertian

Perjanjian Pra Nikah merupakan dokumen resmi yang dibuat oleh calon pasangan sebelum menikah untuk mengatur kepemilikan dan pengelolaan harta selama pernikahan. Aturan mengenai hal ini tercantum dalam Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perjanjian ini harus disahkan oleh pejabat pencatat nikah agar sah secara hukum dan bertujuan melindungi hak masing-masing pihak atas aset serta tanggung jawab keuangan di kemudian hari.

Hal-hal Yang Diatur Dalam Perjanjian Pra Nikah

  1. Pembagian Harta Benda

Perjanjian pra nikah mengatur pembagian harta jika terjadi perceraian atau perpisahan, diantaranya :

  • Suami/isteri  dapat menentukan cara membagi harta yang dimiliki sebelum dan selama pernikahan, termasuk hak kepemilikan dan pengelolaannya.
  • Segala bentuk utang dan piutang yang dimiliki oleh suami atau istri sebelum menikah tetap menjadi tanggung jawab masing-masing, kecuali jika disepakati bersama untuk ditanggung bersama dengan batasan tertentu.
  • Harta bawaan dalam perkawinan yakni harta yang sudah ada sebelum adanya ikatan perkawinan, baik harta yang diperoleh dari usaha masing-masing maupun dari hibah ataupun warisan.
  • Istri memiliki hak penuh untuk mengelola dan menggunakan harta pribadinya, baik berupa aset bergerak maupun tidak bergerak. Ia juga berhak atas hasil dari aset tersebut serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan atau sumber lainnya sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
  1. Dukungan Finansial

Perjanjian pranikah tidak hanya mengatur soal harta, tetapi juga kewajiban finansial antara pasangan, seperti pembagian pendapatan dan nafkah. Dengan adanya pengaturan ini, pasangan memiliki kejelasan hak dan tanggung jawab keuangan selama pernikahan maupun jika terjadi perceraian, sehingga dapat mencegah konflik di kemudian hari.

  1. Hak Asuh Anak

Perjanjian pranikah juga bisa mencakup pengaturan hak asuh anak jika terjadi perceraian. Melalui perjanjian ini, pasangan dapat menyepakati tanggung jawab atas perawatan dan pendidikan anak sejak awal, sehingga menjaga kepastian hukum dan menghindari sengketa hak asuh di kemudian hari.

Dasar Hukum Perjanjian Pra Nikah

Pasal 29 UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Pernikahan

Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua pihak atas persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh Pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut”.

Berdasarkan ketentuan tersebut, perjanjian pranikah harus dibuat sebelum pernikahan dilangsungkan. Namun, bagaimana jika pasangan sudah menikah dan baru ingin membuat perjanjian perkawinan? Apakah masih bisa didaftarkan secara hukum? Penjelasan lengkap mengenai pembuatan perjanjian perkawinan setelah menikah akan dibahas pada bagian berikutnya.

Bolehkan Perjanjian Pra Nikah dibuat setelah Pernikahan

Perjanjian Pra Nikah bisa dibuat ketika suami/istri sudah dalam suatu ikatan nikah, yang bentuk perjanjiannya ialah terkait dengan Pemisahan Harta. Hal tersebut sesuai dengan Putusan MK Nomor 69/PUU-XII/2025.

“Pada waktu, sebelum dilangsungkan atau selama dalam ikatan perkawinan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan atau notaris, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut”

Setelah adanya putusan tersebut, proses pencatatan atau pengesahan perjanjian pranikah tidak lagi dilakukan melalui Pengadilan Negeri, melainkan langsung dicatat oleh instansi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) di daerah masing-masing.

baca juga: Mudahnya Mendirikan Perkumpulan dengan Jasa Buat Perkumpulan

Perjanjian Pra Nikah Untuk Pengusaha

Perjanjian pranikah kini bukan hanya menjadi dokumen hukum semata, tetapi kebutuhan penting bagi para pelaku usaha. Bagi seorang pengusaha, risiko kehilangan aset pribadi atau terganggunya stabilitas bisnis akibat masalah rumah tangga bisa menjadi mimpi buruk.

Di sinilah pentingnya Perjanjian Pra Nikah bagi pengusaha sebagai tameng hukum yang melindungi antara urusan pribadi dan aset bisnis.

Melalui perjanjian pranikah, pengusaha dapat memisahkan secara jelas mana harta pribadi dan mana aset usaha. Jika suatu saat terjadi perceraian atau perpisahan, aset bisnis tetap aman dan tidak ikut terseret dalam sengketa rumah tangga. Tanpa perjanjian ini, modal usaha, aset perusahaan, hingga kepemilikan saham bisa terancam secara hukum.

Oleh karena itu, membuat perjanjian pranikah bagi pelaku usaha adalah langkah bijak untuk menjaga keamanan finansial dan keberlangsungan bisnis di masa depan.

Lindungi asetmu sebelum menikah. Hindari konflik di masa depan bersama EasyLegal!